CeloteHany

penulis lepas yang menyukai darat, laut, dan langit

January 21, 2018

Siapa yang suka lada? Iyes pastinya bukan cuma saya ya. Lada atau merica atau nama ilmiahnya Piper nigrum Linn merupakan salah satu jenis rempah tersohor bukan hanya di Indonesia tapi juga dunia. Asal muasal lada sebenarnya berasal dari negeri tempat “Shahru Khan” tinggal, India, lebih tepatnya di daerah Ghat Barat. Masuknya lada ke Indonesia pertama kali yaitu di daerah Lampung, saat masa kerajaan Sriwijaya. Lampung terkenal akan penghasil lada putih terbesar saat itu. Selain lampung, Bangka Belitung juga merupakan daerah penghasil lada, namun lada yang terkenal dari daerah ini adalah lada hitam.



keyword on google : merica lada


Biasanya penggunaan lada pada sejumlah menu masakan dapat menimbulkan rasa pedas yang menghangatkan. Selain sebagai bumbu rempah, lada juga banyak digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat. Faktanya kandungan capsaicin pada lada dipercaya dapat menyembuhkan sakit kepala, batuk, hidung tersumbat, mengontrol tekanan darah, menurunkan berat badan, hingga membunuh sel kanker dalam proses penyembuhan. Kalo saya suka banget makan bakso pake lada, anget-anget gimana gitu rasa kuahnya, nyesss. Tapi tau nggak sih ternyata lada bubuk yang banyak diperjualbelikan di pasaran banyak yang oplosan alias palsu alias ngga asli.

Berita terkait lada bubuk oplosan sudah lama beredar di masyarakat. Mulai dari dicampur nasi aking, tepung, hingga zat kimia berbahaya seperti hydrogen peroksida dan sodium bicarbonate juga sudah banyak diketahui masyarakat. Tahun 2015 lalu, netizen sempat dihebohkan dengan penemuan lada imitasi yang terbuat dari semen putih di daerah Garut. Ternyata ngga cuma dalam bentuk bubuk yang oplosan, lada dalam bentuk utuh pun masih bisa dibuat tiruannya. Indonesia memang unik ya?

Himpitan ekonomi lagi-lagi menjadi kambing hitam dalam permasalahan ini, sehingga tergiur harga murah menjadi alasan peng-acuh-tak-acu-an informasi ini di masyarakat. Mendengar pengakuan dari salah satu oknum produsen pengoplos lada pun cukup mencengangkan ternyata pedagang banyak yang lebih memilih membeli yang palsu ketimbang yang asli. Bedanya sangat jauh, kalo lada asli bisa dijual 90-100rb per setengah Kg, sedangkan lada palsu yang terbuat dari semen putih dijual dengan harga 2rb per setengah Kg. Melihat berita tersebut saya jadi mikir selama ini yang saya makan di tukang bakso asli atau palsu ya? kayanya palsu deh.

Belum lagi selesai masalah per-lada-an nasional. Lagi-lagi Indonesia harus ditampar oleh kenyataan melemahnya perdagangan lada di pasar dunia. Ironis memang melihat kenyataan tersebut. Dulunya Indonesia mampu menjadi pemasok utama kebutuhan lada dunia sebelum perang dunia ke-2. Namun kini, jumlah produksi dan mutu kualitas yang menurun menyebabkan Indonesia melepaskan posisi tersebut. Saat ini produksi lada Indonesia masih kalah dibandingkan dengan Vietnam dan Brazil, walaupun faktanya Indonesia memiliki lahan pertanian lada yang lebih luas dibandingkan kedua negara tersebut. Menurunnya jumlah produksi dan mutu dari lada di Indonesia banyak dilatarbelakangi kekeringan, serangan hama, dan konversi lahan.

Belajar dari per-lada-an di negara Vietnam, ternyata Indonesia masih tertinggal jauh lantaran masih kurangnya perhatian pemerintah terhadap komoditas penting ini. Di Vietnam, teknologi dan cara budidaya bibit unggul untuk menunjuang kualitas yang baik sangat diperhatikan. Upaya tersebut semakin dikuatkan dengan dibentuknya Asosiasi Lada Vietnam atau The Vietnam Pepper Association (VPA).

Sepertinya Indonesia harus mulai berbenah diri menyikapi permasalahan ini. Perbaikan mutu nasional harusnya bisa menjadi prioritas kebijakan yang harus segera dilakukan. Bukan hanya merugikan tentunya, pengonsumsian lada oplosan baik dalam bentuk bubuk maupun yang masih bulat dapat berdampak pada kesehatan masyarakat di waktu yang akan segera datang. Jika sudah selesai, silahkan perbaiki kembali perdagangan lada di kancah Internasional. Semoga Indonesiaku semakin baik.



Raferensi :
https://lifestyle.okezone.com/read/2015/05/08/298/1146616/kenali-lada-oplosan-yang-dijual-di-pasaran
http://cybex.pertanian.go.id/materipenyuluhan/detail/9004/sejarah-tanaman-lada-di-indonesia
http://tv.liputan6.com/read/2245963/lada-diduga-berbahan-semen-putih-beredar-di-garut
https://www.antaranews.com/berita/629186/polisi-ungkap-pabrik-merica-palsu-di-surabaya
http://wartakota.tribunnews.com/2015/06/24/ini-perbedaan-merica-asli-dan-merica-palsu-berbahan-semen-putih
http://industri.bisnis.com/read/20150626/99/447441/ini-ciri-ciri-merica-palsu-yang-beredar-di-pasar
http://www.radarcirebon.com/kata-pedagang-pembeli-lebih-suka-merica-palsu.html
https://web.facebook.com/permalink.php?story_fbid=635001899991305&id=575728002585362&_rdc=1&_rdr
https://tirto.id/masa-suram-lada-indonesia-b5hH
https://manfaat.co.id/manfaat-lada-putih

January 20, 2018

Alzheimer merupakan salah satu jenis demensia yang banyak terjadi di dunia. Biasanya penyakit banyak dianggap sepele padahal risiko kematian akibat Alzheimer masih cukup tinggi, bukan hanya di Indonesia tapi juga dunia. Orang yan menderita penyakit ini biasanya memiliki 8 hingga 10 tahun harapan hidup setelah diketahui terjangkitnya. Alzheimer ditandai dengan adanya penuruan kemampuan kognitif  (daya ingat, berpikir, berbicara, serta fungsi visuospatial) seseorang secara progresif atau perlahan-lahan. Penyakit ini sering tidak disadari oleh banyak orang karena biasanya penyakit ini dimiliki oleh para lansia, sehingga banyak dianggap sebagai hal wajar dan biasa saja.

http://satuterpenting.com

Laporan WHO tahun 2012 terkait angka Demensia Alzheimer dunia mencapai 35.6 juta jiwa, dan diperkirakan jumlah tersebut akan terus meningkat. Pada 2030 angka tersebut akan meningkat 2 kali lipat dan pada 2050 menjadi tiga kali lipat. Alzheimer's Disease International (ADI) memperkirakan Indonesia memiliki jumlah penderita demensia sebesar 1,2 juta jiwa dan masuk dalam sepuluh negara dengan demensia tertinggi di dunia dan di Asia Tenggara pada 2015.

Berdasarkan data dari WHO diketahui bahwa penderita Alzheimer kebanyakan dipengaruhi oleh faktor usia. Dimana risiko menderita penyakit ini terjadi pada 5-8% orang dengan usia lebih dari 65 tahun, 20% pada usia lebih dari 75 tahun, dan 25-50% pada usia lebih dari 85 tahun.

Jika terus dibiarkan jumlah penderita Alzheimer dapat terus meningkat, bukan hanya pada lansia namun juga kaula muda. Selain usia, penyakit Alzheimer dapat disebabkan oleh berbagai factor, diantaranya faktor keturunan, luka berat di bagian kepala, kebiasaan merokok dan minum alkohol, kurang olahraga, berat badan berlebih, dan segala sesuatu yang dapat memicu gangguan jantung. Faktanya penderita Alzheimer kebanyakan adalah kaum hawa, hal ini dikarenakan wanita cenderung memiliki umur panjang.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali gejala penyakit ini sejak dini. WHO membagi 3 tahapan seseorang terkena Demensia Alzheimer, yaitu tahap awal (1-2 tahun), tahap pertengahan (2-4 tahun), tahap akhir (5 tahun berikutnya). Tahap awal dimana seseorang sering melupakan hal yang baru saja terjadi, melupakan tempat yang sudah familiar baginya, dll. Tahap pertengahan dimana seseorang mulai kehilangan kemampuan untuk menyusun kalimat, melupakan nama orang yang dikenalnya, dan sulit untuk memperkirakan waktu dan tempat. Tahap terakhir tidak mampu mengenali orang lain, tidak mampu makan dan berpakaian sendiri, hingga tidak mampu mengingat jalan kembali kerumah. Jika gejala awal sudah mulai terlihat ada baiknya, kita berkonsultasi dengan dokter. Dan untuk mengetahui lebih jelas, biasanya dokter akan menganjurkan untuk melakukan CT scan atau MRI.

Sudah banyak penelitian di dunia yang dilakukan untuk mencari pengobatan dari penyakit Alzheimer. Mulai dari kimia hingga obat-obatan herbal, namun penyakit yang dapat menyebabkan kematian ini hanya bisa diperlambat perkembangannya melalui obat-obatan namun tidak bisa disembuhkan secara total. Beberapa jurnal yang saya baca menyarankan tumbuhan seperti ginkgo biloba, lemon balm, ginseng, kunyit, kulit manggis, dan pegagan untuk membantu memulihkan nekrosis (kerusakan) sel-sel otak serta menghambat apoptosis sel otak.

Pada dasarnya setiap penyakit ada obatnya. Namun bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Sebagai manusia yang hidup di zaman yang serba instan, sebaiknya pola hidup kita jangan menjadi instan juga ya. Olahraga teratur dan menjaga pola makan sehat penting untuk mencegah kita dari datangnya penyakit.


Referensi :

Bayyinatul Muchtaromah dan Leny Rusvita Umami. 2016. Efek Farmakologi Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) Sebagai Suplemen Pemacu Daya Ingat. Prosiding Seminar Nasional from Basic Science to Comprehensive Education Makassar, 26 Agustus 2016. ISBN: 978-602-72245-1-3.

Safwan, Sapto Yuliani, Suwidjiyo Pramono. 2014. UJI AKTIVITAS MINYAK ATSIRI RIMPANG KUNYIT (Curcuma Longa Linn) Pada TIKUS SPRAGUE DAWLEY MODEL DEMENSIA (Kajian Penghambat Aktivitas Asetilkolinesterase). KARTIKA JURNAL ILMIAH FARMASI, Des 2014, 2 (2), 20-26 ISSN 2354-6565.

Saloni Tanna. 2004. Priority Medicines for Europe and the World "A Public Health Approach to Innovation". Background Paper 6.11 Alzheimer Disease and other Dementias. Diakses pada http://www.who.int/medicines/areas/priority_medicines/BP6_11Alzheimer.pdf

http://www.alodokter.com/penyakit-alzheimer

https://www.alzi.or.id/kenali-10-gejala-umum-demensia-alzheimer

http://obattradisionalpenyakitamandel.blogspot.co.id/2014/01/kunyit-jenis-rempah-penyembuh-alzheimer.html

http://obattradisionalpenyakitamandel.blogspot.co.id/2013/06/obat-tradisional-penyakit-demensia-alzheimer.html

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160924070505-255-160792/indonesia-lupa-catat-jumlah-penderita-demensia



January 19, 2018

Aku suka jaipong
kau suka disko o’ o’ o’..
Aku suka singkong
kau suka keju oh oh oh..
Aku dambakan
seorang gadis yang sederhana
aku ini hanya anak singkong
Aku hanya… Anak Singkong

Tentu ngga asing bukan dengan lirik lagu diatas? Yaps betul, judulnya Anak Singkong yang dinyanyikan oleh Bill and Broad. Itulah lagu pertama yang melambungkan nama Arie Wibowo (alm.) dan band-nya ke panggung industri musik Indonesia era 80-an. Mungkin saat itu Indonesia masih banyak menghasilkan umbi kayu tersebut. Sehingga pengibaratan singkong dalam lagu tersebut terkesan “murah” dibandingkan dengan keju yang terlihat lebih berkelas.

Singkong (Manihot esculenta Crantzmerupakan sumber karbohidrat terbesar ke-3 setelah padi dan jagung. Masyarakat Indonesia tentunya tidak asing dengan hasil bumi yang satu itu, karena dapat diolah menjadi berbagai jenis penganan. Mulai dari tape peuyeum, gethuk, keripik, kolak, atau hanya digoreng dan dikukus, atau untuk diolah menjadi tepung tapioka. Saya pun termasuk salah satu penggemar singkong goring dan kolak singkong. Mendengar bahwa singkong kini sudah mengandalkan impor, tentunya hal tersebut membuat saya sedih.




Singkong impor? Yaps, mungkin belum banyak di angkat atau karena saya yang baru tahu. Ternyata negeri pertiwi yang kaya raya ini justru membeli singkong dari Negara tetangga. Cukup lama, data BPS menyebutkan bahwa Indonesia telah melakukan impor singkong sejak tahun 2011 hingga sekarang. Asal negaranya pun beragam, mulai dari China, Italia, Thailand, hingga Vietnam.

Tak tanggung-tanggung angka impor singkong Indonesia pun cukup tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama Januari-April 2017, impor singkong Vietnam mencapai 1.234 ton dengan nilai US$ 499,8 ribu. Hingga Agustus 2017 nilai impor singkong mencapai US$ 613,2 ribu dengan volume 3,2 ribu ton. Bukan jumlah yang kecil tentunya untuk angka impor. Parahnya lagi ternyata belum ada peraturan yang mengatur terkait batasan impor singkong tersebut, sehingga kemungkinan angka tersebut akan terus bertambah.

Penyebab impor singkong di Indonesia lantaran hasil produksi dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan nasional yang kian meningkat. Kenyataan tersebut dapat juga dilatarbelakangi banyaknya lahan pertanian yang beralih fungsinya dari hari ke hari, sehingga lahan pertanian semakin berkurang luasannya, ditambah lagi musim yang tidak menentu yang dapat menyebabkan gagal panen di berbagai wilayah di Indonesia.

Singkong segar mempunyai komposisi kimiawi terdiri dari kadar air sekitar 60%, pati 35%, serat kasar 2,5%, kadar protein 1%, kadar lemak, 0,5% dan kadar abu 1%, karenanya merupakan sumber karbohidrat dan serat makanan, namun sedikit kandungan zat gizi seperti protein. Singkong segar mengandung senyawa glokosida sianogenik dan bila terjadi proses oksidasi oleh enzim linamarase maka akan dihasilkan glukosa dan asam sianida (HCN) yang ditandai dengan bercak warna biru, akan menjadi toxin (racun) bila dikonsumsi pada kadar HCN lebih dari 50 ppm.

Berkhasiat sebagai obat rematik, demam, sakit kepala, diare, cacingan, mata kabur, nafsu makan berkurang, luka bernanah, dan luka baru kena panas. Singkong juga dikenal sebagai umbi yang memiliki khasiat antioksidan, antikanker, antitumor. Bukan hanya daging umbinya, ternyata kulit singkong juga memiliki banyak manfaat, diantaranya dapat dijadikan pakan ternak, bahan pupuk organik, dan bio-ethanol. Kulit singkong di berbagai daerah di Indonesia juga telah banyak disulap menjadi penganan unik mulai dari keripik hingga rendang kulit singkong. Namun jangan sembarang singkong ya, karena ada juga singkong yang memiliki kandungan asam sianida yang cukup tinggi. Total kandungan sianida pada kulit singkong ini berkisar antara 150 hingga 360 mg HCN per kg berat segar, namun besarnya kandungan tersebut bervariasi tergantung dari vatietas tanaman singkongnya.


Referensi :

Agroinovasi. 2011. Inovasi Pengolahan Singkong Meningkatkan Pendapatan dan Diversifikasi Pangan. Edisi 4-10 Mei 2011 No.3404 Tahun XLI.

http://forum.detik.com/mengenang-arie-wibowo-si-anak-singkong-yang-galau-antara-madu-t537078.html

https://manfaat.co.id/manfaat-kulit-singkong

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3584641/singkong-impor-serbu-ri-dari-tahun-ke-tahun

https://economy.okezone.com/read/2017/05/27/320/1701176/indonesia-masih-impor-singkong-dari-vietnam-jumlahnya-tak-ada-batasan




Udah hampir seminggu tinggal dilingkungan baru. Sukabumi. Masih termasuk dalam wilayah Jawa Barat yang berarti ngga jauh dari rumah di Bogor. Namun tetap ada banyak perbedaan antara Bogor dengan Sukabumi. Mulai dari lingkungannya sampe ke budaya setempat. Lokasi yang ngga berada jauh dari Gunung Halimun Salak, membuat wilayah ini memiliki suhu yang cukup rendah. Jika dilihat dari pendeteksi suhu rata-rata di ponsel, terpampang diangka 20-22 derajat celcius. Sedangkan di Bogor biasanya 30 an derajat celcius. Belum lagi masalah cuaca, walaupun Bogor terkenal dengan kota hujan, nyatanya sudah hamper seminggu disini Aku merasa bahwa Sukabumi lebih cocok menyandang gelar tersebut. Jika hari hujan tidak banyak yang bisa Aku dan teman-teman lakukan, karena basic pekerjaan kami menuntut untuk sering berasa di lapangan.

Oiya disini Aku ngga sendirian. Sebenarnya projek yang Aku lakukan saat ini, sebelumnya digarap oleh Bang Azmi, Bang Rois, Kak Nisa, kemarin ada dua orang Huda dan Indah, nah disini aku menggantikan mereka, Aku dan Nunu. Di foto ada Bang Hamzah, beliau posisinya sebagai konsultan di bidang pertanian. Sedangkan Nunu adalah si tukang fotonya, jadi ngga keliatan di foto
.

Bang Hamzah - Hany - Bang Azmi - Bang Rois - Kak Nisa

Beralih dari masalah cuaca, di Sukabumi masyarakat dalam kesehariannya menggunakan Bahasa Sunda. Sebenernya sama saja dengan di Bogor. Namun, buat Aku yang memang bukan orang asli sunda, menggunakan Bahasa Sunda merupakan hal yang lumayan sulit. Walaupun saat duduk dibangku SD hingga SMA sudah ada mulok Bahasa sunda, namun belum banyak kosakata yang Aku tahu, biasanya hanya menambahkan imbuhan “mah-teh-tah” dan agak sedikit menaik turunkan nada bicara biar terdengar seperti orang sunda.

Sebelum pindah kesini, Aku tinggal di Jakarta. Ya jelas kalo Jakarta – Sukabumi itu beda banget, walaupun kalo di maps hanya berjarak 105km. Jakarta yang terkenal dengan hiruk pikuk nya dan panasnya ketika matahari menjunjung di atas kepala, sangat berbeda dengan Sukabumi yang adem ayem dan lumayan dingin menurut Aku. Proses adaptasi yang kualami dalam beberapa hari kebelakang lumayan singkat, hanya saja kondisi tubuh yang masih belum stabil. Saat tiba pertama kali disini, Aku langsung flu berat. Untungnya ngga yang sampe sakit kepala, Alhamdulillah jadi masih bisa beraktivitas walaupun harus “nyerot-nyerot” ingus yang udah mau keluar ketika lagi ngobrol sama orang.

Rutinitas ketika Aku di Jakarta dengan disini, sangat amat berbeda. Mulai dari pagi hingga malam hari. Pagi hari kalo pas di Jakarta itu bangun, solat subuh, mandi, baca buku, solat duha, berangkat kerja. Nah kalo disini, bangun, solat subuh, baca buku, solat duha, keluar kamar, nyapu, masak, makan. Pekerjaan ku sebagai fasilitator tidak mengharuskan Aku untuk banyak keluar rumah. Hanya ketika ada keperluan dan kegiatan. Kalo dalam sebulan ke depan kaya gini terus, Aku khawatir berat badan ku bisa terus bertambah.

Saat malam hari pun tidak banyak kegiatan yang ku lakukan. Ketika azan maghrib berkumandang aku pergi mushola dekat rumah. Ada kebiasaan unik dengan jamaah solat disini. Mungkin kalo di Bogor ataupun Jakarta biasanya di akhir pembacaan surat Al-Fatihah “bi alaihim waladdhooliin…” seluruh jamaah langsung menyambut dengan “Aamiin…” berbarengan dengan imam. Tapi kalo disini, makmum baru mengucap “aamiin..” setelah imam “aamiin..”. Dan disini juga sepertinya tidak terbiasa dengan salaman dengan orang disamping sampingnya setelah salam dan berdoa bersama seusai solat. Tapi begitulah Indonesia, selalu punya yang berbeda setiap daerah namun tetap satu.


Ternyata memiliki banyak waktu luang harus pandai menggunakannya. Dulu pas di Jakarta rasanya sibuk banget, nyari waktu buat baca buku aja susah rasanya. Disini banyak waktu luang tapi belum pinter manggunakannya. Dari awal niatnya mau banyak baca dan nulis, nyatanya 2 buah buku yang aku bawa dari rumah belum sempat ku habiskan. Padahal dulu di Jakarta novel setebal 300an halaman bisa aku lahap dalam waktu sehari. Di Sukabumi aku justru lebih banyak menggunakan waktu untuk membuka media social dengan aktivitas yang menyedihkan “stalking-in orang”. Buka Instagram udah kaya candu, tiap 10 menit sekali pasti dibuka. Apalagi kalo lagi chat-an sama seseorang, seringnya aku tinggalkan pekerjaan yang lain demi nunggu balesan dari si dia. “Oke ini harus segera diakhiri”, batin ku pagi ini. Sedari pagi aku mencoba untuk mengurangi intensitas membuka medsos dengan menjauhkan HP dari jangkauan dan tidak mengaktifkan suara notifikasi. Belum sempurna memang. Aku masih bisa mengecek WA lewat laptop. Tapi setidaknya aku sedang berusaha. Semoga semua berjalan lancar.

September 12, 2017



Here we go again, menikmati liburan ke pulau ngga perlu modal besar dan persiapan banyak kok. Akhir minggu lalu saya dan rekan kerja saya mencoba untuk melakukan traveling ke Pulau Tidung. Perispan yang kami lakukan cukup mendesak, yaitu sekitar H-3 keberangkatan. Bermodal surfing di dunia internet buat nyari cara menuju pulau tidung, akhirnya saya selaku ketua kegiatan pun dapat menyelesaikan tantangan tersebut. Dengan jumlah anggota kelompok 9 orang (Maulana, Ismail, Bambang, Amri, Ilham, Adhe, Qonita, Putri, dan Saya) kami pun patungan per orang sebesar Rp.300.000.

Omline's Crew ki-ka : Boni, Ilham, Jack, Hany, Molen, Amri, Putri, Adhe, Qonita

Sesuai agenda yang telah saya susun sebelumnya, kami berkumpul di depan Masjid Al Makmur tanah abang sekitar pukul 6 pagi dengan perlengkapan dan tentunya perut yang sudah terisi dengan sarapan pagi depan kosan. Memang agak ngaret dari jadwal, tapi alhamdulillah bisa sampai di Pelabuhan Kali Adem Muara Angke dengan armada Grab Car sekitar pukul 06.30 WIB. Sesampainya di jalanan menuju pelabuhan, kami turun di tengah jalan dan diarahkan oleh warga sekitar untuk masuk melalui jalan tembusan yang lumayan lebih nyaman dilalui dibandingkan jalan utama yang harus melalui kebecekan pasar pelabuhan. 

Sesampainya di pelabuhan, 2 orang rekan saya membeli tiket di loket. Harga tiket per orang menuju Pulau Tidung sebesar Rp. 50.000. Setelah mendapat tiket, kami pun bergegas mencari kapal yang akan membawa kami ke Pulau Tidung. Sebelum masuk ke kapal, kami harus mendata terlebih dahulu nama anggota di catatan keberangkatan penumpang. Singkat, hanya kolom nama, jenis kelamin, dan usia. 

Akhirnya perjalanan pun dimulai. Di awal perjalanan kami coba habiskan dengan berbincang bincang singkat, namun di tengah perjalanan ombak laut terasa lebih kuat menggoncang seisi kapal kecil tersebut. Beberapa teman saya memilih untuk menghabiskan waktu dengan tidur, beberapa yang lainnya sibuk memainkan gadget maupun kamera nya. Perjalanan menuju pulau tidung berlangsung sekitar 3 jam lamanya. Berangkat pukul 08.00 dari Muara Angke dan tiba di Pulau Tidung pukul 11.00. Walaupun ini pertama kalinya saya dan teman-teman ke pulau ini, kami tidak ambil pusing. Karena ada pepatah malu bertanya sesat dijalan. Saya selaku ketua rombongan akhirnya mencoba menanyakan kepada warga sekitar cara menuju camping ground Tidung Kecil. Kalo dari pelabuhan, coba berjalan ke arah kanan, dan lanjutkan dengan berjalan menyusuri jalan lurus beraspal melewati jembatan cinta. Agak jauh ternyata jika ditempuh dengan berjalan kaki, yaitu sekitar 2 Km. Kami pun berjalan sekitar 1 jam dan baru tiba di Pulau Tidung Kecil. 

Sesampainya di pulau tersebut, kami melapor ke petugas setempat. Bertemu dengan Mas Wildan saat itu. Setelah mengurus perizinan, kami pun pamit untuk mendirikan tenda. Untuk bisa nge-camp di pulau ini, ngga perlu khawatir, karena disini gratis dengan fasilitas yang cukup lengkap, yaitu kamar mandi, mushola, warung, dan tempat nge-charge. Disini juga ada tempat penyewaan alat snorkeling dan tentunya ada juga spot snorkelingnya ya. Sesampainya di area camping ground kami memilih untuk beristirahat dan mengisi perut-perut kosong terlebih dahulu ketimbang harus bersusah payah mendirikan tenda. Ternyata mendirikan tenda buat pemula seperti kami agak membutuhkan waktu lama, ditambah masih harus bertanya kepada orang di sekitar cara memasang frame di bagian pintu tenda. Hasilnya pun masih belum sempurna, agak miring. 

Setelah tenda selesai berdiri lumayan kokoh, kami melanjutkan agenda selanjutnya, yaitu bersnorkeling. Bermodalkan 25ribu per orang kami mendapat fasilitas kacamata snorkel, life jacket, dan kaki katak. Sebelumnya saya pernah menggunakan peralatan tersebut ketika mengambil mata kuliah di FPIK IPB, sehingga saya tidak kesulitan untuk menggunakannya. Kami menghabiskan waktu hampir 3 jam untuk melihat-lihat salah satu tempat ciptaan Allah yang keren, walaupun mungkin ngga seindah isi bawah laut Raja Ampat yang tersohor itu, ya tapi lumayan terhibur juga kok dengan sekelompok ikan-ikan kecil bercorak dan berwarna indah yang tengah berlarian diantara gugusan terumbu karang, walaupun tidak banyak. Setelah puas, kami pun bergegas kembali ke tenda untuk bersih diri dan solat ashar. 

Selanjutnya sore hari kami lanjutkan dengan menikmati sunset di jembatan cinta, sambil sebagian dari kami mencari menu bakar-bakaran nanti malam. Sayangnya hari itu kami tidak menemukan penjual ikan mentah satu pun, menurut warga sekitar saat itu memang bukan musim ikan, sehingga warga tidak ada yang menjual ikan mentah. Tidak kehabisan ide, kami pun mencari warung terdekat di Pualu Tidung Besar untuk membeli pasokan makan kami malam itu. Tidak banyak, hanya 1kg telur, sebungkus cabai, garam, dan juga kartu remi.

Malam pun tiba, agenda malam itu adalah masak-masak semua perbekalan yang kami bawa, mulai dari beras, mie, nugget, daging qurban, telur, hingga kopi, susu, teh pun kami habiskan. Ya supaya esoknya beban yang kami sedikit berkurang. Santap malam kala itu terasa sangat menyenangkan, bukan karena menunya, namun karena kebersamaan dalam makan di atas alas kertas nasi yang kami letakkan memanjang di tengah paving blok jalanan. Tanpa ragu-ragu di tengah kegelapan yang hanya ditemani cahaya bulan ditambah sorot cahaya lampu senter di hp kami pun melahap semua makanan yang terhidang, tanpa ada bekas sedikit pun.

Alhamdulillah kenyang, karena jarang-jarang bisa menikmati acara seperti ini, beberapa dari kami memutuskan untuk bermain kartu remi, termasuk saya. Sialnya permainan cangkul yang termasuk permainan mudah bagi semua orang terasa sulit bagi saya. Empat kali berturut-turut saya kalah dalam permainan tersebut. Hukuman yang saya terima pun mulai dari jongkok, berdiri setengah, berdiri, hingga berdiri dengan satu kaki pun saya telah rasakan. Entah, mungkin itu hukuman dari Allah karena melakukan perbuatan yang sia-sia (*astaghfirullah). 

Puas bermain kartu, rasanya saat itu hampir pukul 2 pagi, kami pun beranjak tidur menuju tenda masing-masing. Pagi hari nya kami pun terbangun sekitar pukul 5 pagi. Seusai solat subuh, kami pun memasak sisa bahan makanan untuk sarapan pagi, yaitu dengan telur dan mie, serta segelas dua gelas kopi pun menjadi teman kami menikmati pagi hari di pulau kala itu. Seusai sarapan, sekitar pukul 8 pagi kami berkemas merapikan semua barang dan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. Setelah berpamitan kepada Mas Wildan dan mengambil KTP yang kemarin dijadikan jaminan. Dan kami pun baru tahu ternyata di pulau tersebut terdapat tempat konservasi penyu juga museum paus yang belum sempat kami kunjungi. Nah buat kalian yang mau ke sini, nanti coba ke tempat ini ya. 

Seusai berpamitan, kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Tudung Besar. Agenda selanjutnya adalah bermain banana boat. Di sana terdapat 2 jenis banana boat yang bisa kami nikmati, yang pertama bentuknya benar seperti pisang sedang yang satunya berbentuk bulatan. Karena penasaran, kami pun mencoba keduanya, dengan merogoh kocek sebesar 50ribu kami dapat merasakan 2 jenis permainan tersebut dengan 2 kali dijatuhkan di tengah lautan. Seru banget buat menguji adrenalin. Selepas bermain banana boat kami pun mencoba untuk bermain air di jembatan cinta. Ada satu spot menarik, yaitu lompat dari jembatan cinta yang tingginya sekitar 8 meter. Cukup mencekam memang, tapi rasa penasaran yang membuncah tidak dapat menghentikan saya untuk mencoba 2 kali meloncat dari atas jembatan. Di awal memang membutuhkan nyali yang tinggi, tapi seru banget rasanya, terlebih buat saya yang jarang melihat laut (*maklum orang Bogor). 

Puas bermain air, sampai salah satu dari kami ada yang cidera akibat tergores karang di bagian kakinya, kami pun menghentikan permainan dan bergegas membersihkan diri. Kami pun pergi menuju pelabuhan sekitar pukul 10.30 dan sampai di pelabuhan pukul 11. Langsung saja memesan tiket kapal menuju Muara Angke, ternyata harga tiket pulang lebih murah, yaitu 45ribu per orang, dibandingkan tiket berangkat, yaitu 50ribu per orang. Lama perjalanan pun sama, yaitu sekitar 3 jam. Saat perjalanan pulang kami kebagian tempat duduk di bagian dek bawah yang ada kursinya. Karena sangat lelah saya tertidur pulas hingga tiba kembali di Muara Angke, padahal menurut rekan saya ombak terasa lebih kencang ketika pulang dan mereka pun ngga bisa tidur dengan nyenyak seperti saya. 

Kapal bersandar kapten!
Bersandar sudah, tapi untuk bisa sampai ke daratan, kami membutuhkan usaha melewati sekitar 3 kapal yang sama-sama bersandar. Ditambah berdesak-desakkan, kami pun agak kesulitan kala itu. Tapi akhirnya berhasil juga sampai di daratan. Kami memilih untuk beristirahat sejenak sambil menikmati jajanan di sekitar pelabuhan. Mulai dari buah segar, es lilin, hingga tahu gejrot pun jadi pengganjal perut yang belum sempat di isi makan siang ini. Seusai itu, kami segera mencari angkutan umum untuk dapat kembali ke peradaban kami. Dan perjalanan pun berakhir disini. Terima kasih kepada semua rekan yang telah berpartisipasi dalam jalan-jalan kali ini, Happy Holiday dan back to reality!

September 7, 2016



Menjadi salah satu tempat tinggal bagi beragam flora dan fauna zona Orientalis, Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) merupakan kawasan yang penting dan harus dipertimbangkan dengan baik pengelolaannya. Pasalnya saat ini telah banyak kawasan hutan di Indonesia yang akibat tiadanya pengelolaan yang baik terhadapnya, kawasan tersebut berubah fungsinya dan tidak dapat lagi mendukung kehidupan makhluk hidup di sekitarnya secara optimal. Dengan luas kawasan sebesar 2,6 juta hektare, selain mampu mendukung kehidupan beragam flora dan fauna, KEL juga mampu mendukung penyediaan udara dan air bersih bagi lebih kurang 5 juta warga Aceh yang tinggal di sekitarnya.

Dianugerahi kondisi tanah yang subur dan cocok untuk ditanami kelapa sawit membuat kawasan ini bukan hanya dimanfaatkan oleh warga lokal, melainkan juga perusahaan-perusahaan besar penanam kelapa sawit. Walau pada tahun 2014, telah dilakukan penataan batas kawasan dengan memusnahkan ribuan hektare kebun kelapa sawit illegal yang diketahui masuk ke dalam kawasan hutan lindung KEL ini oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang bekerja sama dengan Forum Konservasi Leuser, namun luasan kebun kelapa sawit yang masuk ke dalam kawasan masih terus saja bertambah hingga kini. Jika terus dibiarkan dan tidak diatur pemanfaatannya, maka kawasan hutan lama-lama akan semakin berkurang luasannya dan dapat mempengaruhi kelestarian hidup flora dan fauna yang di dalamnya. 

Belum lagi usai masalah kebun kelapa sawit illegal, baru-baru ini warga Aceh dibuat geram lantaran pemerintah daerah setempat tidak lagi memasukkan KEL ke dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Aceh dalam Qanun Aceh Nomor 19 tahun 2013. Padahal sudah jelas tercantum dalam lampiran PP RI No 26 tahun 2008 bahwa Kawasan Ekosistem Leuser ini termasuk Kawasan Strategis Nasional (KSN). Sebagaimana pengertian KSN sendiri di dalam Undang-Undang No 26 tahun 2007, yaitu wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia.

Seruan untuk melestarikan kawasan hutan di Aceh yang sering digaungkan oleh pemerintah daerah setempat dianggap tidak sesuai dengan kebijakan yang diambil dan diterapkan. Pasalnya dengan tidak memasukkan Kawasan Ekosistem Leuser ke dalam RTRW Aceh maka kekuatan hukum terhadap status kawasan tersebut akan menjadi semakin lemah dan dapat menimbulkan celah bagi oknum tertentu untuk memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat di KEL secara tidak terbatas. Karena saat ini saja sudah beribu-ribu hektare luas kawasan KEL yang diubah menjadi hutan tanaman sawit. Lebih lagi tingkat perambahan hutan dan perburuan satwa liar juga semakin meningkat di tengah himpitan ekonomi yang tengah di alami rakyat Indonesia. Hal ini tentu saja bukan hany terjadi di KEL, namun juga di kawasan hutan lainnya. Padahal sudah jelas bahwa manusia tidak dapat hidup sejahtera jika lingkungan sekitarnya rusak. 

Mengingat pentingnya keberadaan ekosistem dan keanekaragaman hayati, maka sudah seharusnya pemerintah memberikan perlindungan serta payung hukum yang bisa menjamin keberlangsungannya di masa depan. Di Aceh, Kawasan Ekosistem Leuser adalah mata rantai utama bagi lingkungan sekitarnya. Upaya untuk melindunginya harus ditempuh dengan tetap memasukkannya dalam perencanaan ruang, serta tidak menurunkan statusnya karena pertimbangan pragmatis.

Melaui Gerakan Aceh Menggugat (GerAM), warga aceh menuntut Menteri Dalam Negeri, Gubernur Aceh, dan Ketua DPR Aceh untuk memasukkan KEL ke dalam Qanun Aceh, karena jika kawasan yang telah dimuat pada Jurnal Ilmiah Internasional IUCN sebagai salah satu “tempat tak tergantikan” kawasan lindung di dunia ini di atur tata ruang dan wilayahnya maka upaya penjagaan terhadap kawasan ini semakin diperketat dan gangguan tangan-tangan manusia yang dengan sengaja mengambil dengan serakah sumber daya alam yang di dalamnya dapat dikurangi. 

Bukan hanya warga Aceh yang menginginkan kelestarian KEL, dukungan serupa datang juga dari warga asing, seperti Leonardo DiCaprio yang pada pertengahan Mei lalu sempat mengunjungi Taman Nasional Gunung Leuser dan KEL. Sudah banyak suara dan aksi positif yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk mendukung upaya pelestarian KEL, baik oleh warga setempat maupun lembaga swadaya masyarakat peduli lingkungan. Dan tak main-main, negara lain seperti Jerman juga ikut berpartisipasi mendukung upaya pelestarian KEL ini. Dana senilai 9 juta Euro dikucurkan melaui pihak Bank Pembangunan Jerman (Kreditanstalt fur Wiederaufbau –KfW) kepada pemerintah Indonesia untuk membantu pengelolaan kawasan ini menjadi lebih baik. Seperti yang dilansir dalam website VOA Indonesia, dana ini difokuskan untuk upaya pelestarian sumber daya alam dan hutan, kesejahteraan rakyat, khususnya masyarakat yang berada di wilayah KEL.

Apakah pemerintah Indonesia masih mau berdiam diri melihat pemerintah negara lain berbondong-bondong memperjuangkan agar kawasan ini tidak berubah fungsinya, sedang pemerintah Indonesia sibuk mengurus hal lain dan masih berharap Tuhan akan selalu memberikan nasib baik bagi negeri ini, Indonesia. Tidak sadarkah para pemangku kebijakan tersebut bahwa hampir setiap harinya luasan hutan seluas lapangan bola hilang setiap harinya di Indonesia karena tidak adanya prioritas pengelolaan terhadapnya. Adakah hilangnya hutan tersebut diiringi dengan semakin sejahteranya rakyat, atau justru rakyat kecil semakin miskin dan semakin kaya rakyat yang memiliki kekuasaan di dalam pemerintahan ini. Sudah saatnya suarakan pikiran dan buktikan dalam tindakan nyata demi masa depan Indonesia yang lebih baik.